Menikmati mentari pagi di Bali Beach
Melihat matahari terbit pastinya sangat menyenangkan. Mungkin ada rasa hangat, bahagia, sumringah, segar, lucu, asik, menggelikan, atau mungkin sebal, sedih, malas, ahhh… banyak. Namun pagi ini tak ada kata yg dapat melukiskannya. Aku merasa hangat, hangat sekali. Hingga terasa sampai sumsum tulangku, sampai sel-sel di otakku, sampai selaput lambung terdalam, sampai serat-serat ototku dan juga hatiku tentunya.
Ditepi pantai pagi ini, duduk di atas hamparan pasir kelabu, memandang ke arah laut yang bagai kolam berlian berkelap-kelip timbul tenggelam di terpa sinar mentari. Sebuah pemandangan artistik yg harus direkam, diingat dan disimpan untuk nanti ketika kita sudah tak mampu lagi menjelajah dunia. Suara anak-anak yang riuh bercanda dengan sebayanya, keluarganya, berlarian mengejar kepiting pandai yang larinya cepat dan selalu berusaha mencari celah untuk tempat berlindungnya. Yang memanjakan hewan peliharaannya dengan segarnya air pantai dan hangatnya pasir pantai pagi ini, berlarian saling kejar mengejar. Para penjaja makanan dan minuman pun tak kalah antusiasnya menjajakan dagangannya. Terlihat senyum puas di salah satu wajah mereka yang ku pikir adalah senyum kebahagiaan bahwa hari ini ia bisa membawa kerumah lebih banyak rejeki untuk keluarganya. Tak terlihat satu kesedihanpun di tempat ini. semua berbahagia, semua tersenyum, semua gembira menyambut mentari yang baru saja terbit. Dan semua itu meresap bagai air diatas spon, menjalar bagai akar tanaman rambat dalam tubuhku. Aku merasakan pula semua kebahagiaan yang terekam di depan mataku membuat semua celah, semua rongga, semua ceruk dalam tubuhku hangat, segar dan bersemangat. Inilah anugerah yang indah, inilah surga.
Terima kasih… atas pagi ini.





as usual..keep it up ! good talent
JeRRY said this on August 27, 2009 at 12:31 am