Pertiwi bergetar dan lalu menitikkan air mata
Pagi ini hujan, diluar dingin, mendung begitu tebal menghalangi pandangan dari langit biru yang biasanya cerah menawarkan segala keceriaan dan semangat. membungkus seluruh asa didalam kekelaman. Inikah pertanda musim hujan akan datang? Kemarin gempa, menggetarkan pertiwi yang sedang istirahat tidur siang. menghembuskan secarik berita dari mereka yg resah, takut, dan gelisah akan terjadinya kembali trauma masa silam. Pertandakah ini? Karena seperti biasa Sang Maha Tahu, selalu memberi firasat kepada insan-insan yg dekat dengannya bahwa Ia sedang “tak nyaman”. Namun, bencana tetap terjadi karena tak seorangpun mengindahkanNya atau memang hanya kehendakNya.
Aku masih terpaku menatap reruntuhan air di halaman depan. Bagai bersorak riang pertiwi merayakan datangnya hujan sebagai penghapus dahaga. Tumbuh-tumbuhan menggeliat semangat menikmati guyurannya. Semua bangsa bunga sumringah, menengadahkan senyumannya. Rerumputan menari-nari mengoyangkan helainya mengikuti irama hujan. Dinginnya udara menyuguhkan kenikmatan dibalik selimut wol yg masih membungkus tubukku. Menghirup secangkir susu kedelai buatan bunda, memberi kenyamanan pada organ-organ yg dialiri.
Menanti kapan hujan akan reda membuatku sejenak menelusuri jejak-jejak masa lalu. Ketika pertiwi dibalut hamparan sawah, dinaungi pohon-pohon jati, beringin, damar, bayur atau kelapa. Ketika pucuk-pucuk pinus menawarkan kesegaran, barisan burung berbagi dahan untuk membangun sarang. Dan kini, ketika jejak-jejak itu hanya berupa kenangan, aku kembali pada reruntuhan air yang mengguyur halaman depan. Teringat kembali akan gempa kemarin dan trauma masa silam. Hanya sebaris doa yang terucap, semoga semua akan baik-baik saja.

Hanya sebaris doa yang terucap, semoga semua akan baik-baik saja :)!
JeRRY said this on September 3, 2009 at 8:20 pm