Aku
Sebaris biografi tentangku
Ketika kisahku dimulai, ibuku tercatat sebagai salah satu pasien disalah satu kamar bersalin di rumah sakit yang dulunya terbesar di bali. Aku terlahir pada hari ke tujuh di bulan Desember yang selalu gerimis dan sejuk, Sabtu Pon wuku Ugu 1985. Aku dinamai “NI PUTU EKA BUDI SURYANI” oleh kedua orang tuaku. Entah itu mengandung makna ataupun tidak, yang terpenting aku menyukainya.
Ketika itu bali masih jauh dari keabnormalannya. Masih bisa menikmati yang namanya Oksigen murni, masih bisa mengetahui kapan musim hujan dan kapan kemarau dan tentunya masih bisa merasakan hangatnya sinar matahari tanpa perasa tambahan. Namun semua itu tidak merubah segalanya yang telah ada di Bali. Terutama budayanya, aku bangga bisa lahir ditanah Bali.
Aku tumbuh dalam limpahan kasih sayang. beruntung sekali aku jadi anak pertama, batinku. Sampai akhirnya aku menginjakkan kakiku di sekolah pertamaku yaitu SD 6 Ubung, sebelumnya menyempatkan diri bermain-main sejenak di TK Widya Santi selama setahun. Selama SD aku adalah seorang yang penakut, suka nangis dan sering ngambek. Ditambah lagi tidak mudah bergaul. Kemungkinan besar ini karena didikan ibuku yang selalu mengurusku dari A-Z sehingga aku tumbuh menjadi anak yang manja. Tapi bisa dibilang aku murid yg pintar. Hingga aku menamatkan diri di sekolah pertamaku, aku selalu menjadi juara kelas. Dengan modal juara itu aku bisa masuk SMP 10 Denpasar dimana dulu merupakan salah satu sekolah unggulan di kotaku. Tak banyak yang terjadi ketika aku duduk di bangku SMP. Aku masih tetap anak yang kuper. Teman bermainku hanya itu-itu saja. Tiga tahun berlalu, saatnya melamar ke SMU.
Masih dengan jiwa yang ikut-ikutan. Ikut teman melamar kemana saja dengan modal NEM yang di peroleh, tak punya prestasi apapun ketika SMP. Aku tidak suka berorganisasi, tidak suka mengikuti kegiatan apapun di sekolah. Paling-paling prestasi terbesarku hanya mendapat nilai tertinggi pada pelajaran biologi dan bahasa indonesia. Kesenanganku hanya membaca apa yang aku suka di bawah pohon jambu atau melihat buku ensiklopedia yang penuh dengan gambar tumbuhan dan gunung yang sudah kuhafal halamannya karena sering ku bolak-balik di perpustakaan sekolah. Namun dengan NEM-ku yang ku dapat dari belajar semalam suntuk, aku bisa masuk SMU 7 Denpasar yang mana juga dulunya merupakan sekolah unggulan. Sedikit ada rasa bangga, aku bisa sekolah Negeri dari SD hingga SMU. Namun masa SMU ku juga tidak berbeda dari sebelumnya. aku masih saja kuper alias susah bergaul. Di saat itu aku menemukan bakat terpendamku. Aku mewarisi darah seni kakek buyutku. Aku suka keindahan, aku suka sesuatu yang rapi dan teratur. Aku senang menggambar. Objek yang paling senang ku gambar adalah bunga. Jika tidak membaca di bawah pohon, biasanya jam istirahat ku pakai menggambar bunga. Jarang aku mengobrol seperti teman-teman wanitaku bergosip atau membicarakan hal-hal yang up to date. Malu kalau tidak nyambung.
Setelah itu melanjutkan ke LP3I mengambil informatika komputer selama dua tahun. Mungkin itu hanya sebuah pelarian, karena sebenarnya minat terbesar ku adalah teknik arsitektur Unud. Tapi nasib tak berpihak padaku ketika aku ingin memilih sendiri apa yang ku mau (bukan ikut-ikutan temen). Aku malah diterima di fakultas pertanian rekomendasi kakekku. Padahal aku sendiri tidak ada minat sama sekali di pertanian. Dua tahun berlalu, aku belajar dengan sistem pendidikan kurikulum yang padat sekali. Paham atau tidak, pokoknya lewat saja. Tapi tidak jadi masalah, sebelum aku menamatkan diri di LP3I aku sudah di terima kerja di sebuah travel yang masa itu masih berjaya di seputaran Sanur. Belum ada pengalaman bekerja sama sekali. Sempat mengalami kepanikan sementara, beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun akhirnya bertahan hingga sekarang. Tidak pernah berfikir untuk melanjutkan pendidikan lagi. Kini aku sedang mengumpulkan dana untuk kebaikan yang lebih besar. Berharap apa yang aku rencanakan berjalan lancar.
Banyak hal yang telah ku lewati selama rentang usiaku, cinta, bahagia, tangis, sakit, dan juga tawa. Namun hingga kini tak satupun dari segalanya membuatku paham apa yang waktu bisikkan dalam sebuah kehidupan. Aku menyukai keindahan alam. Melakukan pendakian, menelusuri jejak, mengamati awan, aku sangat menyukainya. Darah menjelajah ku terasa panas mengaliri punggungku. Ingin sekali menikmati indahnya alam dan mencari dimana tempat Oksigen murni itu berada disela-sela kebosanan suasana kantor. Ingin mengunjungi semua pura yang ada di bali sebelum terjadinya kemerosotan moral yang berakhir pada kiamat. Memenuhi hati dan pikiran dengan kedamaian. Bersujut dekat dengan-Nya. Dan ingin berbuat banyak kebaikan di dunia sebelum ajal menjemput.
16.05.09
Sabtu yang cerah, hari ini terang, tak ada mendung atau awan. Langit nampak biru bersih dan tenang. Suasana hatiku pun tenang, seperti langit di atas, tidak sedih ataupun terlalu bahagia, sedang-sedang saja. Hari sabtu seharusnya menghabiskan akhir pekan di rumah. Berkumpul bersama keluarga, teman dan pacar. Menyusun acara akhir pekan, merencanakan jalan-jalan yang menyenangkan, atau memanjakan diri dengan pergi ke salon, luluran, maskeran, creambath, bermalas-malasan di depan TV, bersepeda keliling kompleks atau berlari-lari kecil melemaskan otot. Oh atau berjalan-jalan dengan si Brony. Ohh… betapa menyenangkannya membayangkan akhir pekan. Namun pagi ini aku masih harus pergi ke kantor.
Ya, aku adalah seorang gadis muda berumur 24th yang memiliki semangat hidup yang, ya bisa dikatakan lumayan lah. Aku bukan seorang yang pemalas, tapi bukan juga seorang yang ambisius. Aku selalu merencanakan apa yang akan aku lakukan. Bisa dikatakan aku sedikir perfeksionis. Tapi aku bukan tipe orang yang memiliki disiplin tinggi, terkadang aku masih mengandalkan mood juga. Tetapi aku akan berusaha untuk memenuhi semua hal yang sudah ku rencanakan. Aku selalu berusaha berfikir simpel dan membuat semua menjadi mudah. Walaupun sebenarnya itu tidak begitu mudah. Kesulitan pasti selalu datang. Yah namanya hidup. Emosiku masih belum stabil, kadang masih suka meletup-letup seperti kawah Bromo, hehe… Keteraturan, kerapian dan keindahan tetap yang paling ku suka. Ibarat lukisan, aku suka yang realis.
Kini aku bekerja. Aku bukan seorang wanita karir, bukan juga seorang job hunter. Aku hanya karyawan biasa. Aku memulai karir di sebuah perusahaan jasa perjalanan sebagai seorang EDP (wih kedengaran gagah juga klo ditulis begitu, hehe…). Ijasah Informatika komputer yang membuatku ada di tempat itu dan mandeg sampai sekarang. Entah-lah apa yang menjadi alasan aku masih tetap membetahkan diri ditempat itu. Apakah tempat itu memang nyaman, pekerjaanya menyenangkan atau karena belum ada penggantinya. Aku rasa mungkin alasan terakhirlah penyebabnya. Sudah ku katakan bahwa aku bukan seorang yang ambisius. Hanya saja untuk saat ini aku sudah merasa puas di tempat itu. Namun aku mempunyai keinginan kalau suatu saat nanti aku harus keluar dari tempat ku bekerja sekarang, karena tidak mungkin aku selamanya disini (bisa-bisa pemilik perusahaan bosan denganku atau sebentar lagi tempat ini gulung tikar, ups! hehe..). Tapi ah, aku malas untuk memikirkannya sekarang.
Menikah, kata itu sedikit menggelitik telingaku. Tentunya setiap orang pernah memikirkan hal itu namun tak semuanya menginginkan itu nyata. Aku senang memikirkan hal itu. Pasti saat ketika aku sudah menikah akan berbeda rasanya dengan saat ini. Mungkin akan sangat menyenangkan, hidup mungkin akan lebih menggairahkan. Atau malah lebih rumit. Ohh.. kembali ke awal “Aku selalu berusaha berfikir simpel dan membuat semua menjadi mudah.” mungkin cukup berpegangan dengan kalimat itu aku bisa menciptakan hidup yang menyenangkan saat ini, esok dan nanti. Aku ingin memiliki 3 anak nanti. Mungkin akan sangat menyenangkan jika anak pertamaku laki-laki. Yang kedua laki-laki dan yang ketigapun laki-laki. Hahaha… Pasti akan sangat merepotkan mengurus tiga anak laki-laki yang pastinya memiliki keinginan yang berbeda-beda. Hei, tapi aku belum mau menikah di usiaku sekarang. Aku merasa terlalu muda, masih suka bersenang-senang dengan semua kebiasaan mudaku. Kecuali kekasihku memburuku untuk segera aaarrrrrgggggg…..
Oke, sepertinya sudah cukup banyak yang aku tulis. Sudah cukup nyaman untuk ku tinggalkan demi melanjutkan hari ini. Pekerjaanku telah menunggu dengan setia. Aku berangkat dan aku akan datang lagi nanti ketika darah menulisku kembali mendidih, untuk menuangkan semua hal yang ingin tumpah dari kepalaku. Masih ada esok, hari minggu untuk bermalas-malasan atau menjalankan rencana weekend. Ups, nanti malam pun bisa. acara ngedate bareng kekasih tercinta selalu ditunggu-tunggu. Selamat bersenang-senang.
10.08.09
-Aku -
Ada masa ketika aku ingin menikmati kesendirian
Tanpa teman bahkan orang terkasih
Menarikan tarian sendu
Menyanyikan alunan melankolis
Menyajikan sebuah pertunjukan egoisme
Hanya aku, tanpa warna, tanpa rasa
Karena,
Kesendirianku telah menciptakan warna dan rasanya sendiri
Tanpa butuh perhatian, hanya diam …
Mengembara dalam imajinasi-imajinasi tanpa pemahaman
Hanya aku, tanpa suara, tanpa bentuk
Karena,
Kesendirianku telah menciptakan suara dan bentuknya sendiri
Larut dalam euforia kesunyian
Memang..
Terlihat begitu egois, begitu angkuh
Namun itulah aku
Sebuah sisi lain dari percahan kehidupanku
Tak ada penjelasan bagi itu semua.


Leave a Reply