Minggu ini sangat berat aku lalui. Berawal dari hari senin yang sibuk hingga sabtu yang lemas. Senin, aku bangun dengan mata yang masih sangat mengantuk. Ini akibat liburan kemarin yang terlalu bersemangat sehingga sampai larut malam baru kembali. Kemudian bibir terasa perih dan sepertinya agak sedikit bengkak. Aku curiga sariawanku bertambah parah. Padahal sudah rajin ku obati dengan Albothyl. Aku sangat membenci penyakit ini. Namun setelah ku periksa, bukan sariawanku namun bibirku berwarna merah sekali dan kaku. ketika ku gerakkan terasa perih seperti luka yang berkontraksi, sedangkan sariawanku telah sembuh sesuai harapan. My God.. penyakit apa lagi ini?
Aku mengingat-ingat kira-kira apa penyebeb dari perubahan pada bibirku pagi ini. Namun ku menemukan banyak hal yang bisa saja menjadi faktor bencana ini. Kembali ku bergelut dengan cairan pekat dan pahit berwarna coklat Albothyl. Aawww… perih sekali, namun tahan. Ku yakin 1 atau 2 hari lagi pasti kering dan sembuh.
Berangkat ke kantor. Hari senin, sudah pasti dan tentu akan banyak pekerjaan yang menunggu. Biasa karena sistem kerja di kantorku terhubung dengan agent-agent diluar yang menggunakan sistem direct sent booking, maka bookingan hari sabtu dan minggu menumpuk ingin dikerjakan pada hari senin di tambah bookingan yang datang hari itu juga. Belum lagi harus membuat laporan mingguan yang memang terbit di hari senin. Dengan bibir bengkak dan perih aku terbenam di antara tumpukan kertas bookingan. Tidak ada yang memanggil namaku saja aku sudah sangat bersyukur. Aku tidak siap menghadapi hal-hal selain menyelesaikan pekerjaanku dan segera pulang jika diijinkan dengan bibit yang seperti bibir kuda nil disengat tawon.
Selasa berlalu dengan masih seperti hari senin, hanya saja tumpukan kertas-kertas telah menipis dan hampir selesai jika cepat ku kerjakan.
Hari rabu, tak pernah ku bayangkan. Bibirku sedikitpun tak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, malah semakin merah dan perih. pagi hari ku lihat ada darah di antara kulit ari di bibir yang mengelupas. Walaupun sedikit namun cukup membuat semangatku terjun semakin rendah. Aku menyerah sajalah. Aku putuskan membawanya ke dokter. Aku takut, jangan-jangan ini bukan sariawan atau dampak dari panas dalam biasa dan akhirnya ibuku membawaku ke dukun. Aaaaaaa…… tidaaak… Aku berharap dokter tak mengatakan hal yang buruk. Jam baru menunjukkan pukul 13.35. Masih lama sekali jam pulang kantor.Tak bisa ku menunggu lagi. Akhirnya aku meminta ijin untuk pulang lebih awal dan menuju suatu tempat yang aku yakin bisa menolongku. Ibu agus, seorang bidan yang menanganiku dari sebelum aku dilahirkan, masa kanak-kanakku hingga kini hampir mau tumbuh uban, sebenarnya tidak sesuai cocok sekali kedengarannya pergi ke bidan. Tapi itulah kenyataanya. Tanpa basa-basi beliau memeriksa bibirku dan dapatlah beliau menyimpulkannya. Over dosis obat, kurang lebih itu maksudnya. Memang, sebelum aku mendapatkan penyakit yang sebelumnya ku sebut aneh ini, aku mendapatkan sebuah sariawan di bibir bawah sebelah kiri. Untuk mengobati, ku gunakan cairan Abothyl dgn cara meneteskannya pada luka, bukan menekan2 dg kapas seperti yang di anjurkan. Maksudku sbnrnya adalah supaya cepat sembuh, namun ternyata membawa petaka. Albothyl adalah obat keras yang bisa melepuhkan kulit bila digunakan terus-menerus. Apalagi kulit pada bibir. Bisa dibayangkan bagaimana itu tidak membuat bibirku bengkak seperti bibir kuda nil disengat tawon. Haha.. “Istirahat, makan tomat dan banyak minum. Ini Ibu berikan tablet vitamin” Hanya itu anjurannya, sehingga ku putuskan untuk mengambil libur di hari kamis.
Jumat, bengkak dibibir sudah mengecil hampir normal kembali. hanya saja masih terlihat sedikit iritasi berwarna merah. Masih terasa nyeri ketika terkena air saat minum, ketika makan dan ketika ku oleskan madu. Mungkin sedang terjadi proses pembentukan jaringan kulit ari yang baru.
Sabtu, aku terbangun dengan badan yang pegal-pegal, lemas sekali, bibirku masi terasa nyeri dan kering. Besok, ya besok harus sembuh. Terasa lelah dan bosan sekali dengan penyakit ini. Dan seninpun datang. Walau masih tetap nyeri, tapi kini aku dapat kembali ke kantor dengan tidak menanggung malu lagi hehe…







