header image
 

Senin 08/06/09

Minggu ini sangat berat aku lalui. Berawal dari hari senin yang sibuk hingga sabtu yang lemas. Senin, aku bangun dengan mata yang masih sangat mengantuk. Ini akibat liburan kemarin yang terlalu bersemangat sehingga sampai larut malam baru kembali. Kemudian bibir terasa perih dan sepertinya agak sedikit bengkak. Aku curiga sariawanku bertambah parah. Padahal sudah rajin ku obati dengan Albothyl. Aku sangat membenci penyakit ini. Namun setelah ku periksa, bukan sariawanku namun bibirku berwarna merah sekali dan kaku. ketika ku gerakkan terasa perih seperti luka yang berkontraksi, sedangkan sariawanku telah sembuh sesuai harapan. My God.. penyakit apa lagi ini?
Aku mengingat-ingat kira-kira apa penyebeb dari perubahan pada bibirku pagi ini. Namun ku menemukan banyak hal yang bisa saja menjadi faktor bencana ini. Kembali ku bergelut dengan cairan pekat dan pahit berwarna coklat Albothyl. Aawww… perih sekali, namun tahan. Ku yakin 1 atau 2 hari lagi pasti kering dan sembuh.

Berangkat ke kantor. Hari senin, sudah pasti dan tentu akan banyak pekerjaan yang menunggu. Biasa karena sistem kerja di kantorku terhubung dengan agent-agent diluar yang menggunakan sistem direct sent booking, maka bookingan hari sabtu dan minggu menumpuk ingin dikerjakan pada hari senin di tambah bookingan yang datang hari itu juga. Belum lagi harus membuat laporan mingguan yang memang terbit di hari senin. Dengan bibir bengkak dan perih aku terbenam di antara tumpukan kertas bookingan. Tidak ada yang memanggil namaku saja aku sudah sangat bersyukur. Aku tidak siap menghadapi hal-hal selain menyelesaikan pekerjaanku dan segera pulang jika diijinkan dengan bibit yang seperti bibir kuda nil disengat tawon.

Selasa berlalu dengan masih seperti hari senin, hanya saja tumpukan kertas-kertas telah menipis dan hampir selesai jika cepat ku kerjakan.

Hari rabu, tak pernah ku bayangkan. Bibirku sedikitpun tak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, malah semakin merah dan perih. pagi hari ku lihat ada darah di antara kulit ari di bibir yang mengelupas. Walaupun sedikit namun cukup membuat semangatku terjun semakin rendah. Aku menyerah sajalah. Aku putuskan membawanya ke dokter. Aku takut, jangan-jangan ini bukan sariawan atau dampak dari panas dalam biasa dan akhirnya ibuku membawaku ke dukun. Aaaaaaa…… tidaaak… Aku berharap dokter tak mengatakan hal yang buruk. Jam baru menunjukkan pukul 13.35. Masih lama sekali jam pulang kantor.Tak bisa ku menunggu lagi. Akhirnya aku meminta ijin untuk pulang lebih awal dan menuju suatu tempat yang aku yakin bisa menolongku. Ibu agus, seorang bidan yang menanganiku dari sebelum aku dilahirkan, masa kanak-kanakku hingga kini hampir mau tumbuh uban, sebenarnya tidak sesuai cocok sekali kedengarannya pergi ke bidan. Tapi itulah kenyataanya. Tanpa basa-basi beliau memeriksa bibirku dan dapatlah beliau menyimpulkannya. Over dosis obat, kurang lebih itu maksudnya. Memang, sebelum aku mendapatkan penyakit yang sebelumnya ku sebut aneh ini, aku mendapatkan sebuah sariawan di bibir bawah sebelah kiri. Untuk mengobati, ku gunakan cairan Abothyl dgn cara meneteskannya pada luka, bukan menekan2 dg kapas seperti yang di anjurkan. Maksudku sbnrnya adalah supaya cepat sembuh, namun ternyata membawa petaka. Albothyl adalah obat keras yang bisa melepuhkan kulit bila digunakan terus-menerus. Apalagi kulit pada bibir. Bisa dibayangkan bagaimana itu tidak membuat bibirku bengkak seperti bibir kuda nil disengat tawon. Haha.. “Istirahat, makan tomat dan banyak minum. Ini Ibu berikan tablet vitamin” Hanya itu anjurannya, sehingga ku putuskan untuk mengambil libur di hari kamis.

Jumat, bengkak dibibir sudah mengecil hampir normal kembali. hanya saja masih terlihat sedikit iritasi berwarna merah. Masih terasa nyeri ketika terkena air saat minum, ketika makan dan ketika ku oleskan madu. Mungkin sedang terjadi proses pembentukan jaringan kulit ari yang baru.
Sabtu, aku terbangun dengan badan yang pegal-pegal, lemas sekali, bibirku masi terasa nyeri dan kering. Besok, ya besok harus sembuh. Terasa lelah dan bosan sekali dengan penyakit ini. Dan seninpun datang. Walau masih tetap nyeri, tapi kini aku dapat kembali ke kantor dengan tidak menanggung malu lagi hehe…

Sailormoon the great angel

Sabtu 30/05/09

Akhirnya, berakhir sudah segala hal tentang dirimu. Suaramu, senyummu, tawamu, marahmu, kesalmu, teriakanmu, tingkahmu, semua! Kenapa? Karena kau telah pergi. Benar-benar pergi, jauh entah kapan Beliau mengembalikanmu pada raga yang lain lagi, meninggalkan aku dengan semua kenangan yang telah kau goreskan pada beberapa lembar halamanku. Hanya beberapa, tak banyak. Tapi cukup memberi warna pada bukuku.

Kemarin, bersamaan dengan terbangnya serpihan-serpihan abu dari kobaran api dibawahnya, melayang ke angkasa seakan ingin menyentuh awan, membawa serta jiwamu yang sudah ingin pulang menemui-Nya, dekat pada-Nya, dan menyatu dengan-Nya. Bulir-bulir air mata mengantar kepergianmu, rupa-rupa letih dan sendu menghiasi hari kepergianmu, hati pedih dan sedih membalut suasana. Sebagian mengikhlaskanmu, sebagian lagi tersedu menahan kelu. Karena apa? Karena kau begitu berartinya bagi mereka, begitu juga bagiku. Di bawah beringin nan tua namun terlihat kokoh ini, aku berkumpul dengan banyak yang lain yang terkenang terhadapmu, yang pernah dekat denganmu, yang hidupnya pernah kau isi dengan cerita ketika kau masih bernyawa dulu. Menyaksikan prosesi penyatuanmu pada Sang Ilahi. Terbujur kaku di atas altar. Mengheningkan cipta sejenak, memejamkan mata mengirimkan sebuah doa untukmu. Doa kepergian, doa terakhir, doa penutup riwayatmu. Sayup-sayup terdengar kidung yang juga pengiring untukmu, memambah pilunya hati. Suara gong menggema, bertalu-talu memberi suntikan semangat ketabahan bagi yang kau tinggalkan. Wangi dupa dan taburan bunga menyatu dalam kobaran api suci yang menjadi salah satu media penyatuanmu. Terselip doa untuk semua yang rapuh dariku, agar diberi ketabahan menjalani hidup tanpamu. Dan juga untuk diriku sendiri tentunya. Selamat jalan. Tanpamu, tentunya hari-hariku akan terasa berbeda.

Back to haven although just a moment

“Bagaimana dengan kencan kita siang ini? Kau menikmatinya” Hahaha… Pasti kau akan menendangku jika mendengar pertanyaanku ini. Karena sebenarnya kau hanya sebagai pemanis perjalananku. Ups… sori ^_^ !! Tapi terima kasih atas tumpangan yang kau berikan. Aku sangat menikmati jalan-jalan ini. Ya, aku sedang berkencan. Berkencan dengan debur ombak, pasir-pasir putih bersih, para kepiting-kepiting laut, udara yang berbau garam dan langit biru yang bersih. Kalian tentu sudah bisa menebak dimana aku berada. Ya, ditepi pantai. Tempat kesayanganku, tempat pujaanku, surgaku. Siang ini langit begitu cerah, mentari terik bersinar, angin semilir menggoyangkan dahan-dahan yang menjadi tempatku bernaung. Ketika itu air sedang pasang, jadi air datang menabrak-nabrak tepi beton penahan ombak, sampah-sampah rumput laut berserakan terbawa oleh air pasang. Tetapi tidak mengurangi keindahan yang Ia tawarkan padaku. Di tepi pantai karang aku duduk. Hanya 30 menit yang dapat memenuhi seluruh pembuluh otak ku dengan kebahagiaan dan ide-ide  indah, dan seluruh rongga paru-paruku dengan udara segar. Cukup untuk melanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda di kantor.

Sabtu 23/05/09

Hari sabtu, selalu ada cerita untuk kalian. Entah kenapa, apakah ini hanya suatu kebetulan atau gimana. Hari ini langit mendung dan suasana hatiku pun seperti dilukiskan oleh langit. Kemarin pagi (22 Mei 09) baru saja tiba di kantor, menyalakan komputer dan duduk sebentar mengumpulkan nyawa-nyawa yg belum lengkap sampai dikantor, tiba-tiba saja ponselku yg masih tersemat di saku celana panjangku berdering mengagetkan. Ku lihat nama orang yang berhasil mengganggu ketenanganku pagi ini dari screen Hp, terlihat “Pak tut edi Fx”, oh bik ku jelek (bik : kakak) rupanya. Ini sudah menjadi kebiasaannya mengganggu pagi-pagi. “gimana bik, pkbr?”  Sambutku, tanpa halo, hai atau yang lainnya. Tapi, suara yang menyahut di seberang sana lembut, bukan suara yg  biasa ku kenal. Firasatku, ada yang tidak beres. Tapi aku masi tetap tenang dan tetap menganggap hal ini wajar. Namun, detik berikutnya, aku sudah tak bisa berkataapa-apa lagi. Aku tidak bercaya apa yg sudah aku dengar. Suara diseberang mengatakan bahwa, aku tak akan bisa lagi mendengar suara orang yang memikiki ponsel ini. Orang yang ku lihat namanya di screen ponselku beberapa saat yang lalu. Teman berantemku di telpon. Teman yang bisa memberiku nasehat layaknya orang tua dengan tidak merasa tidak enak. Saudara yg selalu perduli dengan makan ku, dimana aku berada, dan hal2 sepele lainnya yang dia anggap sebagai basa-basi untuk mempererat persaudaraan. Dia pergi, jauh sekali dan tidak akan kembali lagi. Kenapa orang-orang seperti itu cepat pergi?

“Tak kurang dari setahun, tak banyak yang ku ketahui darimu, tak banyak yang kau katakan padaku, tak lebuh jauh kau mengenalku, tak bula banyak hal-hal yang bisa kita lewati bersama. Hanya sebentar, sangat pendek waktu yang kita habiskan. Apa kau tidak merasa kurang bermain-main dengan ku? Aku tak ingat hal-hal buruk yang pernah kau lakukan padaku. Kau sayang padaku. Selalu mengatakan ‘andai kau lahir dirumahku, kau pasti akan sangat disayang, seperti putri raja’, sambil tersenyum serius. Aku belum melihatmu menikah, begitu juga sebaliknya seperti apa yang kau ceritakan padaku. kau ingin menjadi orang penting di pernikahanku nanti. Kau jahat. Kau tak pernah bilang mau meninggalkanku secepat ini. Aku merasa, dari dulu kau memang penuh kejutan. Sampai akhir harimu pun kau berhasil dengan gemilang mengagetkanku. Kau sungguh aneh. Apa tak ada orang yang menyayangimu lagi di sini? Hingga kau pergi? Aku ingat kau pernah mengatakan itu. Tapi aku hanya mendengarkannya sebelah telinga saja, karena ku anggap itu omong kosong. Tapi apa benar karena itu? Bagai mana dengan pacar kecilmu? Kau banyak meninggalkan orang, mungkin banyak yang sakit juga. Bagaimana dengan rencana mu mau diangkat sebagai PNS september tahun ini? Kau janji membeli sopie martinku juga. Kau juga bilang akan main kerumah lagi dan aku harus membuatkanmu Perkedel Kentang kesukaanmu. Kini semua itu cuma omong kosong. Kau pergi, benar-benar pergi jauh tak terjangkau lagi. Apa salahmu sih? Oh God, maafkan aku. Aku benar-benar kehilangan. Kau bregsek, dan kau berhasil menghilangkan teman, sahabat, saudara, paman dan juga rival berantem ku”.

Ku ucapkan selamat. Selamat jalan. aku harap kau mendapatkan kebahagiaan disana. Bersatu dengan-Nya. Mudah-mudahan semua yang kau tinggalkan dapat dengan tabah menerimanya. Termasuk aku. Aku pasti akan merindukanmu. Kuharap kau bisa membaca ini, karena sudah ku cc satu pada Tuhan.

Menikmati mentari pagi di Bali Beach

Melihat matahari terbit pastinya sangat menyenangkan. Mungkin ada rasa hangat, bahagia, sumringah, segar, lucu, asik, menggelikan, atau mungkin sebal, sedih, malas, ahhh… banyak. Namun pagi ini tak ada kata yg dapat melukiskannya. Aku merasa hangat, hangat sekali. Hingga terasa sampai sumsum tulangku, sampai sel-sel di otakku, sampai selaput lambung terdalam, sampai serat-serat ototku dan juga hatiku tentunya.

Ditepi pantai pagi ini, duduk di atas hamparan pasir kelabu, memandang ke arah laut yang bagai kolam berlian berkelap-kelip timbul tenggelam di terpa sinar mentari. Sebuah pemandangan artistik yg harus direkam, diingat dan disimpan untuk nanti ketika kita sudah tak mampu lagi menjelajah dunia. Suara anak-anak yang riuh bercanda dengan sebayanya, keluarganya, berlarian mengejar kepiting pandai yang larinya cepat dan selalu berusaha mencari celah untuk tempat berlindungnya. Yang memanjakan hewan peliharaannya dengan segarnya air pantai dan hangatnya pasir pantai pagi ini, berlarian saling kejar mengejar. Para penjaja makanan dan minuman pun tak kalah antusiasnya menjajakan dagangannya. Terlihat senyum puas di salah satu wajah mereka yang ku pikir adalah senyum kebahagiaan bahwa hari ini ia bisa membawa kerumah lebih banyak rejeki untuk keluarganya. Tak terlihat satu kesedihanpun di tempat ini. semua berbahagia, semua tersenyum, semua gembira menyambut mentari yang baru saja terbit. Dan semua itu meresap bagai air diatas spon, menjalar bagai akar tanaman rambat dalam tubuhku. Aku merasakan pula semua kebahagiaan yang terekam di depan mataku membuat semua celah, semua rongga, semua ceruk dalam tubuhku hangat, segar dan bersemangat. Inilah anugerah yang indah, inilah surga.

Terima kasih… atas pagi ini.

Sabtu, 16/05/09

Sabtu yang cerah, hari ini terang, tak ada mendung atau awan. Langit nampak biru bersih dan tenang. Suasana hatiku pun tenang, seperti langit di atas, tidak sedih ataupun terlalu bahagia, sedang-sedang saja. Hari sabtu seharusnya menghabiskan akhir pekan di rumah. Berkumpul bersama keluarga, teman dan pacar. Menyusun acara akhir pekan, merencanakan jalan-jalan yang menyenangkan, atau memanjakan diri dengan pergi ke salon, luluran, maskeran, creambath, bermalas-malasan di depan TV, bersepeda keliling kompleks atau berlari-lari kecil melemaskan otot. Oh atau berjalan-jalan dengan si Brony. Ohh… betapa menyenangkannya membayangkan akhir pekan. Namun pagi ini aku masih harus pergi ke kantor.

Ya, aku adalah seorang gadis muda berumur 24th yang memiliki semangat hidup yang, ya bisa dikatakan lumayan lah. Aku bukan seorang yang pemalas, tapi bukan juga seorang yang ambisius. Aku selalu merencanakan apa yang akan aku lakukan. Bisa dikatakan aku sedikir perfeksionis. Tapi aku bukan tipe orang yang memiliki disiplin tinggi, terkadang aku masih mengandalkan mood juga. Tetapi aku akan berusaha untuk memenuhi semua hal yang sudah ku rencanakan. Aku selalu berusaha berfikir simpel dan membuat semua menjadi mudah. Walaupun sebenarnya itu tidak begitu mudah. Kesulitan pasti selalu datang. Yah namanya hidup. Emosiku masih belum stabil, kadang masih suka meletup-letup seperti kawah Bromo, hehe…

Kini aku bekerja. Aku bukan seorang wanita karir, bukan juga seorang job hunter. Aku hanya karyawan biasa. Aku memulai karir di sebuah perusahaan jasa perjalanan sebagai seorang EDP (wih kedengaran gagah juga klo ditulis begitu, hehe…). Ijasah Informatika komputer yang membuatku ada di tempat itu dan mandeg sampai sekarang.  Entah-lah apa yang menjadi alasan aku masih tetap membetahkan diri ditempat itu. Apakah tempat itu memang nyaman, pekerjaanya menyenangkan atau karena belum ada penggantinya. Aku rasa mungkin alasan terakhirlah penyebabnya. Sudah ku katakan bahwa aku bukan seorang yang ambisius. Hanya saja untuk saat ini aku sudah merasa puas di tempat itu. Namun aku mempunyai keinginan kalau suatu saat nanti aku harus keluar dari tempat ku bekerja sekarang, karena tidak mungkin aku selamanya disini (bisa-bisa pemilik perusahaan bosan denganku atau sebentar lagi tempat ini gulung tikar, ups! hehe..). Tapi ah, aku malas untuk memikirkannya sekarang.

Menikah, kata itu sedikit menggelitik telingaku. Tentunya setiap orang pernah memikirkan hal itu namun tak semuanya menginginkan itu nyata. Aku senang memikirkan hal itu. Pasti saat ketika aku sudah menikah akan berbeda rasanya dengan saat ini. Mungkin akan sangat menyenangkan, hidup mungkin akan lebih menggairahkan. Atau malah lebih rumit. Ohh.. kembali ke awal “Aku selalu berusaha berfikir simpel dan membuat semua menjadi mudah.” mungkin cukup berpegangan dengan kalimat itu aku bisa menciptakan hidup yang menyenangkan saat ini, esok dan nanti. Aku ingin memiliki 3 anak nanti. Mungkin akan sangat menyenangkan jika anak pertamaku laki-laki. Yang kedua laki-laki dan yang ketigapun laki-laki. Hahaha… Pasti akan sangat merepotkan mengurus tiga anak laki-laki yang pastinya memiliki keinginan yang berbeda-beda. Hei, tapi aku belum mau menikah di usiaku sekarang. Aku merasa terlalu muda, masih suka bersenang-senang dengan semua kebiasaan mudaku. Kecuali kekasihku memburuku untuk segera aaarrrrrgggggg…..

Oke, sepertinya sudah cukup banyak yang aku tulis. Sudah cukup nyaman untuk ku tinggalkan demi melanjutkan hari ini. Pekerjaanku telah menunggu dengan setia. Aku berangkat dan aku akan datang lagi nanti ketika darah menulisku kembali mendidih, untuk menuangkan semua hal yang ingin tumpah dari kepalaku. Masih ada esok, hari minggu untuk bermalas-malasan atau menjalankan rencana weekend. Ups, nanti malam pun bisa. acara ngedate bareng kekasih tercinta selalu ditunggu-tunggu. Selamat bersenang-senang. ;)

Berita Duka

Ada berita duka pagi ini, datangnya dari Ibu Sonja. Beliau adalah teman lama ku  di Marintur tempatku bekerja sekarang. Rasanya baru  kemarin kita merasakan kebahagian bersama atas kelahiran putrinya yang pertama, si cantik Gloria.
Namun pagi ini, seperti petir menyambar, sangat tidak terduga, aku dan teman-teman sekantor menerima berita kematian Pendeta Mathius Molle, yaitu suami dari Ibu Sonja. Kecelakaan yang terjadi di Jl. Teuku Umar, di depan Gereja Baitani, telah merenggut nyawanya. Menurut informasi yang ku dapat, beliau melewati jalan tersebut bermaksud untuk menghadiri acara ceramah. Berangkat dari kantornya di Departemen Agama Jl. Tantular Renon setelah melakukan apel bersama, beliau berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba ada sebuah sepeda motor menyerempet dari samping hingga membuat beliau kehilangan keseimbangan dan jatuh. Ketika jatuh secara tiba-tiba pula dari arah belakang, sebuah mobil box menabrak dan mengakibatkan kepala bagian belakang mengalami luka parah. Segera saja orang-orang melarikannya ke RSUP Sanglah untuk diberi pertolongan, namun sayangnya nyawa pendeta Molle tidak dapat tertolong lagi.
Yang sangat disayangkan dari kejadian ini adalah, si penabrak sama sekali tidak menghiraukan apa yang telah terjadi, meninggalkan TKP dengan begitu saja. Mudah-mudahan tuhan memberi ketabahan untuk semua anggota keluarga Ibu Sonja dan untuk Bapak, semoga beliau mendapat tempat yang layak sesuai amal bhaktinya.

Hope today is happyness day…

Pagi yang tenang ini dimulai dari geliat lemah dan kedipan mata malas. Berfikir sejenak tentang apa yg pernah terlintas sebelum aku tersadar dari tidur ini. Aku tak bisa mengingat mimpiku tadi malam tapi sepertinya bukan merupakan mimpi buruk karena tidak membuatku ketakukan saat tersadar tadi.

Aku tersenyum mengingat pembicaraan semalam melalui telepon. Percakapan panjang yg penuh dengan ungkapan cinta. Dan aku ucapkan ” I Luv U, honey”. Teringat peristiwa hari sebelumnya, hiruk pikuk suasana kantor, canda tawa tema-teman dan penuturan seorang sahabat. Cukup hal indah itu untuk suntikn semangat di hari ini.

Kemudian dilanjutkan dgn mengingat-ingat hal yg harus dikerjakan. Ketika telah mantap untuk memulai hari yang benar nyata, kaki kiriku lah yang pertama menyentuh dinginnya ubin di kamarku, disusul kaki kanan dan tegaklah aku duduk menyambut rutinitas.

Satu doa untuk hari ini, “Semoga bahagia lagi yang ku dapat” :)

Refreshing Brain

Waterbom with da prendz of MTB at Feb22′09