header image
 

Karya ku

Sepi

Desir angin yang biasa hanya terasa sejuknya kini terdengar lirih
mengirim suara pilu gender di kejauhan
pucuk-pucuk bergoyang mengikuti alunannya

pematang masih terasa basah oleh hujan
ketika rembulan meregang nyawa dibalik awan kelabu tadi malam
tak terlihat satupun jiwa-jiwa yang biasa memanggul cangkul, merangkul bakul

Sepi… sendiri aku menatap ke langit
meresapi aroma tanah basah
ditemani jiwa sendu beribu tanya

(Ek-Dec’09)

Help Me!!

Apa yang sudah aku lakukan dengan hidupku?
Aku telah bersalah pada diriku
Aku telah bersalah pada hidupku
Aku telah bersalah pada semua yang disekelilingku
Aku tak memberi kebahagiaan untuknya
Aku telah menyakitinya
Hanya memasok kebencian, bukan senyum, bukan tawa
Aku pendosa…..
Hey… tidak!! Aku tak sepenuhnya bersalah
Telinga mana yang mau mendengar kebenaranku?
Aku butuh dukungan, aku tak sepenuhnya salah
Tak ada…..
Tak ada yang mau mendengar
Aku sendiri…..
Aku benci…..
Jika begini, apa aku masih bersalah pada hidupku?
Bukankah jadi sebaliknya
Hidup telah menyulitkanku!
Tidak…..  pikiran ini yang kacau
Aku gilaaaaa…. aaarrrrrggggggggg…….
Bunuh saja aku, Waktu
Sebelum tangan ini kalap menghujamkan belati ke dadamu!

(Ek-Dec’09)

Jangan Khawatir

Jangan khawatir, sayang
aku tak kan pergi jauh
hanya bermain disekitar pekarangan
dengan burung pipit dan ayam-ayam tetangga

Jangan takut aku terbuai
oleh hangatnya angin sore
dan indahnya kembang desember yang telah mekar
karena rerumputan yang kau tanam jauh lebih bagus

Aku akan kembali jauh sebelum mentari condong ke barat
menyiangi gulma bersamamu
mencukur perdu yang memagari rumah kita
menghitung musim bersama
menikmati sore yang hangat
karena langit sore tak kan cukup indah kau nikmati sendiri

Jangan khawatir, sayang
itu pasti, karena itu sudah semestinya

(Ek-Nov’09)

Malam Indah Sepanjang Jaman

Ketika rembulan menyunting bebintangan
Ia sematkan sebuah pada telinga langit
Kemudian berjalan menuju pelaminan
Bersatu menyajikan malam yang indah

Dengar aku, pinta pak jangrik
Irama pop ini akan mengiringi pernikahan ini
Menggelitik telinga untuk tetap terjaga
Menyaksikan pertalian malam terbentuk

(Ek - Nov’09)

Aku benci Aku

bibir ini terlalu banyak bicara
sebuah tanda dari miskin harga diri
mengoceh tanpa pertimbangan logika
melibatkan emosi dan perasaan

jika begini…
sepanjang perjalanan hidup ini
tak ku temui makna apapun
tak ku mencernanya dengan baik
hanya ku lahap dengan rakus
sari-sarinya tak terserap
dan hanya menghasilkan ampas
kotor dan busuk

kini cuma sesal yang tampak
menari-nari jelas diatas kepala
tanpa memberi pembesaran hati
malah tertawa terbahak menyudutkan
dengan akhir sebuah senyum getir

(Ek-Nov’09)

Balada Pesisir

Pesisir, aku kembali
Dengan segala lelah dan gundah
Mencari penawar di butir pasirmu
Seteguk kesejukan dibuai anginmu

Pesisir, aku kembali
Menyambut gayung harapan
Di bias birunya langit
Kau tawarkan pada riak-riak ombak

Pesisir, aku kembali
Sempat ku kecap manismu
Diantara gumpalan awan bersama celoteh camar
Kini, ingin ku kecap lagi disela-sela karang

(Ek - Okt’09)

Lelakiku

Jangan mengharap lebih
bahwa kau satu-satunya orang yang ada dalam benakku
karena…
Kaulah satu-satunya orang yang ku tempatkan dihatiku
Percayalah…

(Ek-Okt’09)

Aku tetap menanti…

Aku seperti punguk
Menantikan hadirnya suaramu
yang menyapa namaku atau sekedar ucapkan ‘Hallo’
Aku sedih bercampur kesal
Mengingatmu melupakanku
Kita tidaklah sebagai apapun atau siapa-siapa
Aku tau itu…
Hanya saja, aku adalah seorang egois
yang menyandarkan harapan padamu yang bukan apa-apa
Aku tetap menanti hadirnya suaramu

(Ek-Okt ‘09)

- Bangkit -

Pedihku menjauh berlari menelusuri tepian nestapa
yang masih tersisa di atas seonggok derita
Aku putuskan untuk bangkit
dan tidak lagi merasa terpuruk
Jalan masih panjang menanti semua laku dan gerak
yang sempat tertahan di ujung angan

(Ek-Sept ‘09)

- TeruntukMu… Tuhan -

Di satu saat inginku merajut masa depan
namun, saat lainnya belumku tuntaskan masa ini
bimbang merangkul nyawa di ujung asa
Tuhan, sudahkah Engkau tunjukkan jalan untukku?
mengapa bimbang marajai hari?
sujutku padaMu selalu
ijinkan aku selalu ada dalam bimbinganMu

(Ek-Sept ‘09)

- Beri aku petunjuk -

aku tersedu disisi peraduan
meratapi semua hal yang terlihat gamang
bagaimana aku dapat melihat masa depan
jika mata ini tertutup
kudapati bingkai hari berjelaga
sesaat lusuh sehabis diterpa badai
kaki ini terpaku, membeku
tanpa tau arah kemana melangkah

bulan telah lama tenggelam
meninggalkan malam sendirian
namun tak ada tanda terbitnya mentari
yang kan mengusap sisa-sisa tetes air mata
siapa yg dapat ku andalkan
tuk membuka mata ini
dan memberi secercah asa
pada langkah yang membawa kakiku

(Ek-Sept ‘09)

- Tunggu aku, sang waktu… -

sang waktu…
kau terasa mengejar
berputar-putar disekelilingku
tak dapatkah kau berhenti sejenak?
menjadi teman ku berbagi
aku takut kau tinggalkan
bersama yang lain pergi menjauh

aku belum sempat mengucap
kata untuk hari kemarin
kau sudah memanggil hari ini
dan sebelum ku usaikan hari ini
kau bergegas mendorong langkahku
menuju esok
sanggupkah aku mengiringimu?

aku tak sanggup menyamai langkahmu
berpacu tiada henti
aku lelah
bisakah kita beristirahat sejenak?
sekedar menghirup oksigen
untuk memenuhi paru-paruku
sebelum kita melanjutkan perjalanan

(Ek-Sept ‘09)

- Hati ini gelisah -

Apa yang harus aku lakukan
ketika ku tau apa yang ku rasa benar
nadiku bergetar, detaknya merintih

entah, aku takut atau bahkan menikmatinya
akankah bersembunyi dibalik kisi-kisi berjelaga
tetap terlihat dan tercoreng

Ijinkan aku tau selagi mentari hangat bersinar
apa yang nyata akan menanti
namun ku berharap yang kurasa salah
hingga saat senja sudahi hari
aku tenang beristirahat ditemani kerlip bintang

(Eka, Aug’09)

- Menjauhimu -

Menjauhimu serupa hasrat tanah kering kepada hujan
menganga celah-celah dahaga

Menjauhimu serupa jelajahi malam panjang nan luas
kudapati sedu sedan tanpa batas

Menjauhimu hanya siksaan raga tanpa arti
(Eka, Aug’09)

Rahasia
Rahasia selalu jujur
tersaji apa adanya
selama itu di hati

- Pedih -

Semua berlalu di depan mata
menari-nari
bernyanyi
tertawa
menangis
terisak
hingga…
mengaduh
tak ada yang terlewatkan
namun, tetap saja…
semua berlalu di depan mata

(Eka, Aug’09)

- Aku -

Ada masa ketika aku ingin menikmati kesendirian
Tanpa teman bahkan orang terkasih
Menarikan tarian sendu
Menyanyikan alunan melankolis
Menyajikan sebuah pertunjukan egoisme
Hanya aku, tanpa warna, tanpa rasa
Karena,
Kesendirianku telah menciptakan warna dan rasanya sendiri
Tanpa butuh perhatian, hanya diam …
Mengembara dalam imajinasi-imajinasi tanpa pemahaman
Hanya aku, tanpa suara, tanpa bentuk
Karena,
Kesendirianku telah menciptakan suara dan bentuknya sendiri
Larut dalam euforia kesunyian
Memang..
Terlihat begitu egois, begitu angkuh
Namun itulah aku
Sebuah sisi lain dari percahan kehidupanku
Tak ada penjelasan bagi itu semua.

(Eka, Aug’09)

- Aku Sedang Menikmati Sesuatu -

Aku sedang menikmati sesuatu
Sesuatu yang belum pasti
Masih belum jelas
Namun terasa indah
Hingga nadi-nadiku berdegup
Degupnya tak kencang
Namun cukup membuatku tersadar
Akan hadirnya didekatku
Aku sedang menikmati sesuatu
Sesuatu yang asing
Terasa masih gamang
Masih ada keraguan dan ketidakyakinan
Aku sedang menikmati sesuatu
Sesuatu yang membingungkan
Terkadang indah bagai rangkulan malaikat
Hangat, menggelembungkan seluruh rongga yg mampu dialiri
Bergairah, penuh semangat, membara, berwarna, cerah, merona
Tapi…
Terkadang menyiksa bagai duri menyayat-nyayat
Memimpikannya dalam ketidakwarasanku
Mengagungkan egoku
Mencoba tuk meraihnya
Aku sedang menikmati sesuatu
Ini adalah suatu rasa
Jatuh Cinta
(Eka, Aug’09)

- Hari berwarna sangat membingungkan -

Kenapa dunia hari ini berwarna sedih?
Ak melihat nya sendu sekali, tak bergairah
Mengantuk, lemas, haaaaaaaaaaahhhhhhhh….
Pilek ku tak kunjung sembuh
Lelah dengan keadaan ini, bosan…
Kakiku letih semua, suasana hatiku pun tak karuan
Ingin tidur, ingin jatuh, ingin manja
Membayangkan saja, bosan…
Kenapa tak lari saja kepantai, tidur diatas pasir
Mengorok hingga keluar liur
Ingin makan rujak, kasihan uang
Perut mual, minta ditambah atau dikeluarkan
Cuci muka, biar sedikit segar
Dingin, takut bersin-bersin lagi
Ada banyak warna terlihat
Merah, kuning sebentar lagi hitam pekat dan kembali menjadi jingga
Suara AC berisik sekali, melontarkan hawa kesedihan
Menggigil, ingin merem terus
Diam, duduk, pantat terasa panas
Tumpukan kertas bikin mual, bolehkah tak dikerjakan?
Tidak!!! Harus !!!
Kepala ini bingung
Akibat jarang merenung, menyembah sang pencipta
Minta ketabahan.
Itulah kesalahan
Bukan!! ada hal lain, tapi apa?
Kepala ini bingung

(Eka, Aug’09)

- Malam tak mengerti semuanya -

Kala itu …
Ketika senja mulai turun
Menjemput serpihan-serpihan petang
Geliat sayong perlahan namun pasti
Menyentuh ujung-ujung rerumputan
Menjadikannya tempat bersinggah sejenak
Petang semakin dingin
Malam menjelma
Menjadi semilir yang mampu menusuk sukma
Menjadi suara-suara pembangkit bulu kuduk
Atau, menjadi kelam, mati dan hampa
Namun diatas derak suara dipan bambu
Memenuhi ruang sunyi itu
Tercipta satu kehangatan
Kehangatan yang tak pernah dimengerti
Oleh dinginnya musim, ataupun
Sayup-sayup suara malam
(Eka, Aug’09)

- Wanita -

Dengan lembutnya cahaya rembulan membelai
dan kemilau bintang-bintang
Tergetar Tuhan untuk mencipta

melihat cantiknya untaian anggrek, ditambah wanginya melati
indahnya kuncup-kuncup mawar, dan tegarnya rumput liar

lembutnya bulu-bulu kucing, lincahnya seekor kelinci
kuatnya induk singa, keegoisan sang macan
anggunnya sang merpati, tulusnya angsa putih
cerdiknya sang kancil dan pintarnya bunda tupai

kesombongan merak serta rendah hatinya gereja
terciptalah sosok mahluk bertajuk “wanita”
begitu beragam lakunya

dengan kelembutan dan keangunannya
akan membuat dunia penuh warna
dengan kesombongan dan keegoisannya
akan merubah hak, derajat dan martabatnya
dengan kecerdikan dan kepintarannya
memimpin dunia, serta
dengan ketulusan dan kerendahatiannya
akan melimpahkan kasih layak ibu untuk dunia

- kabud, Nov’06 -

Leave a Reply