Sebuah Kisah
Seorang gadis merasa kesepian, tidak… ia tak kesepian tetapi selalu merasa kurang perhatian atau entahlah apa namanya. Ia selalu mencari kehangatan, kebaikan hati dan kasih sayang. Bermain dengan banyak burung, menari, bernyanyi dan bercengkrama. Apa semua yang ia dapat dari kekasihnya terasa kurang? Tidak juga, itu lebih dari cukup. Bahkan sangat berlimpah. Sang gadis serakah! Mungkin juga… atau murahan.
Ketika ditanya, sambil terisak sang gadis menajawab, ” Aku suka diperlakukan dengan sangat manis, dimanja dan disayang. Begitu juga sebaliknya. Bukankah Tuhan mengajarkan kita untuk saling mengasihi sesama bahkan dengan semua ciptaannya? Aku tidak serakah. Aku tidak melecehkan diriku. Aku menjaganya dengan sangat baik. Aku juga bukan mengemis. Ini adalah sebuah proses memberi dan diberi. Aku tidak melakukan suatu pelanggaran, jangan salahkan aku. ” Ini adalah sebuah cara sang gadis menikmati hidupnya. Meraih kebahagiaan dengan berusaha tak menyakiti hati siapapun dan terutama hatinya sendiri.
Inilah kisahnya, tersimpan rapi seperti rahasia. sepeti kutipan yang sempat terambil dari pikiran seseorang “Rahasia selalu jujur, tersaji apa adanya, selama itu di hati ”
29.05.09
Sang gadis bertanya, “Bagaimana dengan kencan kita siang ini? Kau menikmatinya” Hahaha… Pasti kau akan menendangku jika mendengar pertanyaanku ini. Karena sebenarnya kau hanya sebagai pemanis perjalananku, Seorang lelakiku !! Tapi terima kasih atas tumpangan yang kau berikan.”
Hari ini, Sang gadis sangat menikmati jalan-jalan ini. Ya, sang gadis sedang berkencan. Berkencan dengan debur ombak, pasir-pasir putih bersih, para kepiting-kepiting laut, udara yang berbau garam dan langit biru yang bersih. Kalian tentu sudah bisa menebak dimana ia berada. Ya, ditepi pantai. Tempat kesayangannya, tempat pujaannya, surganya. Siang ini langit begitu cerah, mentari terik bersinar, angin semilir menggoyangkan dahan-dahan yang menjadi tempatnya bernaung. Ketika itu air sedang pasang, jadi air datang menabrak-nabrak tepi beton penahan ombak, sampah-sampah rumput laut berserakan terbawa oleh air pasang. Tetapi tidak mengurangi keindahan yang pantai tawarkan padanya. Di tepi pantai karang Ia duduk. Hanya 30 menit yang dapat memenuhi seluruh pembuluh otak nya dengan kebahagiaan dan ide-ide indah, dan seluruh rongga paru-parunya dengan udara segar. Cukup untuk melanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda.
27.08.09
Sang gadis mengenalnya tak cukup lama, tak lebih dari umur jagung, namun telah ada getar-getar yang terasa ketika pandang saling beradu, senyum saling menyungging, kulit saling menyentuh, dan ketika nafas saling berhembus membuai waktu yang berlalu diantara mereka. Sang gadis tersentuh oleh kata-katanya, oleh setiap kalimat yang tersurat, manis dan indah. Terkesan berlebih namun tanpa paksaan. Bukan rayuan tetapi terdengar memuja. Seperti ingin meraih namun terasa begitu jauh. Ketika mencoba mendekat, walau satu langkah saja terekam keraguan. Setiap kali di dekatnya ada getar tak terungkap. Seorang lelakinya ini bagai tumbuhan putri malu, selalu menutup ketika didekati, sungguh lugu dan polos. Namun penuh rahasia dan makna disetiap laku dan geraknya. Ketulusanya terlihat dari guratan garis-garis wajahnya. Itulah sebait yang membuat sang gadis tertarik. Rupanya nan elok, bagai sayap merak di tengah hutan tropis dikelilingi anggrek dan melati tanah yg sedang bermekaran. Oh tidak mungkin itu sedikit berlebian, namun ia suka melukiskannya dengan kata-kata seperti itu. Sang gadis selalu tersenyum jika dia datang lalu mendekat dan akan sibuk mencari-cari kemana dia pergi ketika dia tak terlihat. Sang gadis tau bahwa dirinya bahagia dan sedang jatuh cinta. Namun dia, seorang lelakinya tak perlu tahu apa yang ia rasakan. Inilah kisahnya, sang gadis…
05.10.09
Siang ini begitu panas, namun tak dirasakan apapun oleh sang gadis. Hatinya gembira. Kini ia sedang duduk di bawah pohon ketapang, dimana lagi pohon ketapang tumbuh? ya… di tepi pantai. Memandang kearah laut, menikmati birunya air dan buih-buih tepian pantai. Bersenandung tentang burung-burung camar dan riak-riak air dibuai sang bayu. Di sampingnya seorang lelakinya menemani dengan senyum seolah tertular dari suasana hati sang gadis. Seolah bercengkrama dari hati ke hati tanpa kata-kata. Siang yang panas ini menjadi sangat sejuk dan berseri. Ketika mata saling terpejam, rasa menjadi tenang dan hati bernyanyi syahdu.. Inilah dunia bahagia tanpa huruf dan kata-kata.
14.10.09
Hari ini sang gadis sedikit bersedih, seorang lelakinya pergi meninggalkannya untuk sebuah masa depan. Masih teringat raut wajah lelakinya untuk terakhir kalinya, tersenyum penuh makna seolah menyampaikan sesal dan rindu yang akan ia dan sang gadis rasa selama kepergiannya. Langkah sendu menemani kepergiannya, seulas senyum penuh harap mengakhiri hari ini. Sang gadis berkata, “get your success and i’ll miss u so. I’m waiting till you back, my boy…”
19.10.09
Pikiran sang gadis masih waras ketika ia melihat bayangan seorang lelakinya perlahan nampak jelas dihadapannya. Dengan kewarasannya ia melangkah mendekat dan mendekap tubuh seorang lelakinya itu. Ditenggelamkannya kepalanya pada dada seorang lelakinya dan sejenak kemudian aroma tubuhnya tercium memenuhi rongga paru-parunya. Sembari meluapkan rindu yang telah lama ditampungnya, lama waktu merampas masa hingga adegan ini sang gadis masih belum melibatkan emosinya.
09.11.09
Sang gadis melenguhkan sesuatu “Ketika ku rengkuh punggungmu yang bidang, kurasakan aroma tubuhmu menarik lenganku untuk memelukmu lebih erat lagi. Aku terseret arus menuju dermaga hatimu, wahai seorang lelakiku”
13.11.09
Ketika ku lihat sekilas, sang gadis terisak sambil berbicara sendiri. “Aku tertonjok tepat didada. Sakit rasanya mendengar alunan lagu yang kau nyanyikan pagi ini. Tak kusangka itu yang tertanam dalam benakmu tentang ku. Oh… jangan seperti itu… aku cepat sekali merasa bersalah… Aku datang bukan karena aku memerlukan mu dan pergi karena aku sudah tak memerlukanmu lagi. Bukan itu niatku. Hari ini… aku datang untuk memperbaiki hubungan kita yang sempat terkacaukan oleh keegoisanku. Seperti yang kau kenal, seperti inilah aku, aku membutuhkan banyak ruang pribadi untuk diriku sendiri menikmati keegoisanku dan cenderung mengabaikan orang-orang sekelilingku. Aku tak pernah berniat mengabaikanmu atau membencimu. Aku pernah bilang, hari ini, kemarin, atau besok, aku masih sang Gadis yg kau kenal. Tak kan pernah berubah terhadapmu, wahai seorang lelakiku… Hei jangan menjadi sensitif begitu, aku benar-benar tidak nyaman. Ayo tunjukkan senyum mu ^_^ ”

Leave a Reply